Liputan Surabaya – PAMEKASAN, Kompetisi dangdut Tanah Air kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, perhatian tidak hanya tertuju pada kualitas vokal para peserta, melainkan pada dinamika penilaian digital yang memicu polemik di ajang Dangdut Academy 7 (DA 7). Sosok yang berada di pusat perhatian adalah Valen Pamekasan, talenta muda asal Madura yang perjalanannya harus terhenti di tengah ekspektasi besar para pendukungnya.
Sejak awal penampilannya, Valen dinilai sebagai salah satu kontestan paling menonjol. Karakter vokalnya yang kuat, penguasaan teknik, serta kemampuan membangun emosi dalam setiap penampilan membuatnya diprediksi melaju hingga babak puncak. Bahkan, sejumlah pengamat dan penggemar menyebut Valen sebagai kandidat kuat juara DA 7.
Namun, dinamika kompetisi berubah drastis pada Konser Kemenangan. Valen harus mengakui kekalahan setelah tertinggal dalam perolehan virtual gifts, sistem dukungan digital yang menjadi salah satu penentu hasil akhir. Kekalahan tersebut memicu kekecewaan dan tanda tanya besar di kalangan penonton.
Sejumlah penonton menilai terjadi kejanggalan pada pergerakan angka gift yang meningkat signifikan dalam waktu singkat untuk peserta lain, Tasya. Lonjakan tersebut terjadi di menit-menit krusial, saat hasil akhir hampir ditentukan. Fenomena ini memunculkan dugaan adanya intervensi sistem yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan dukungan riil dari basis penggemar.
Sorotan publik juga tertuju pada identitas pemberi gift bernilai besar atau yang kerap disebut โSultanโ. Nama-nama akun yang muncul dinilai asing dan tidak memiliki rekam jejak dalam komunitas penggemar resmi. Minimnya interaksi dan kemunculan yang mendadak memperkuat kecurigaan publik terhadap transparansi mekanisme penilaian.
Di sisi lain, kebutuhan industri televisi akan rating dan engagement juga menjadi perhatian. Persaingan ketat, kejar-kejaran angka, dan tensi tinggi dinilai sebagai strategi untuk menjaga minat penonton. Dalam konteks tersebut, drama kompetisi dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kemasan acara hiburan.
Hingga kini, pihak penyelenggara belum memberikan penjelasan rinci terkait mekanisme lonjakan virtual gifts yang dipersoalkan publik. Namun perdebatan terus bergulir di media sosial, dengan sebagian penonton menilai Valen Pamekasan dikalahkan oleh sistem dan algoritma, bukan oleh kualitas vokal semata.
Terlepas dari kontroversi yang mengiringi langkahnya, Valen Pamekasan justru meraih simpati luas dari masyarakat. Dukungan moral dan solidaritas dari para penggemar terus mengalir, menandakan bahwa popularitas Valen tidak luntur meski gagal meraih posisi puncak.
Sejumlah pengamat menilai, sejarah industri hiburan kerap mencatat bahwa banyak bintang besar lahir dari peserta yang tersingkir secara terhormat. Kekalahan Valen di DA 7 dinilai bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjangnya di dunia dangdut nasional.
Valen mungkin kalah dalam angka digital dan fenomena yang disebut publik sebagai โGift Sultan Gaibโ. Namun ia memenangkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan angka atau sistem apa pun, yakni kepercayaan dan loyalitas penggemar yang menjadi modal utama untuk melangkah lebih jauh di industri hiburan Tanah Air.
Pewarta : (TP)










