Liputan Surabaya – Surabaya, Dalam khasanah budaya Jawa, banyak pitutur luhur yang diwariskan turun-temurun sebagai panduan hidup. Salah satunya adalah wejangan yang sarat makna:
“Nalika atimu wis bisa ikhlas, kabeh sing abot bakal dadi entheng, lan sing peteng bakal katon pepadhangé.”
(Ketika hatimu sudah bisa ikhlas, semua yang berat akan terasa ringan, dan yang gelap akan tampak terang.)
Pitutur tersebut mencerminkan nilai mendalam tentang makna ikhlas dalam kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat Jawa, ikhlas bukan sekadar pasrah tanpa usaha, melainkan bentuk kesadaran batin yang menuntun seseorang menuju ketenangan dan penerimaan hidup.
Dalam falsafah Jawa, konsep sinau urip (belajar hidup) menjadi pegangan penting. Segala pengalaman, baik suka maupun duka, dianggap sebagai guru yang mengajarkan kebijaksanaan. Dari sanalah, rasa ikhlas tumbuh menjadi sumber kekuatan sejati—menjadikan beban terasa ringan dan kegelapan berganti dengan cahaya.
Budayawan Jawa menilai, pitutur seperti ini memiliki nilai spiritual dan moral yang tinggi. Ia menuntun manusia untuk tidak larut dalam keluh kesah, tetapi belajar menerima dan memahami makna di balik setiap kejadian. “Ati sing legawa iku pepadhang urip,” begitu pepatah Jawa menegaskan, bahwa hati yang lapang adalah cahaya kehidupan.
Melalui pitutur Jowo, masyarakat diajak kembali mengenal jati diri, menjaga keseimbangan batin, serta memperkuat hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Nilai-nilai luhur ini menjadi warisan budaya yang terus relevan di tengah modernitas zaman.
Pitutur Jowo ora mung tembung, nanging dadi tuntunan urip.
Pewarta : (Tp)
Redaksi Budaya Jawa
Liputansurabaya.id










