SURABAYA, KOTA KEDIRI –Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menjadi lokasi pembaiatan 463 santri baru asal Lamongan dan Babat sebagai anggota Pagar Nusa, Sabtu (12/9/2026). Kegiatan yang digelar di Lobi Aula Muktamar itu dipimpin langsung Ketua Umum PP Pagar Nusa, Muchamad Nabil Haroen atau Gus Nabil.
Dalam arahannya, Gus Nabil meminta para santri tidak memandang pembaiatan sebatas seremoni organisasi. Menurutnya, ada mata rantai sejarah, sanad, dan tanggung jawab dari para kiai yang harus dipahami oleh setiap generasi baru Pagar Nusa.
Lirboyo sendiri disebut memiliki posisi penting dalam perjalanan organisasi. Pagar Nusa berawal dari ikhtiar para kiai di Tebuireng pada 27 September 1985, lalu keberadaannya diteguhkan di Lirboyo pada 3 Januari 1986. Salah satu figur yang tidak terpisahkan dari fase awal itu adalah KH Abdullah Maksum Jauhari atau Gus Maksum.
Karena itu, pembaiatan di Lirboyo dinilai memiliki makna historis tersendiri. Gus Nabil menyebut kehadiran Pagar Nusa di pesantren tersebut sebagai momentum untuk kembali mengingat akar organisasi, perjuangan para pendiri, serta arah pengabdian yang harus dijaga.
Ia menegaskan, kemampuan bela diri tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran seorang pendekar. Adab kepada guru, khidmah kepada kiai dan pesantren, serta kepedulian kepada masyarakat justru menjadi bagian penting dari jati diri Pagar Nusa.
“Pagar Nusa tidak sedang mencetak jagoan. Pagar Nusa sedang mendidik generasi muda agar kuat tetapi beradab, berani tetapi tidak arogan, serta memiliki kemampuan untuk melindungi dan memberi manfaat kepada sesama,” ujar Gus Nabil.
Menurutnya, Indonesia memiliki banyak orang yang kuat, tetapi kekuatan tanpa adab tidak cukup. Seorang pendekar, kata dia, semestinya dikenal bukan karena membuat orang lain takut, melainkan karena mampu menghadirkan rasa aman dan memberi manfaat di lingkungannya.
Pesan itu juga dikaitkan dengan fungsi dasar ilmu bela diri. Gus Nabil menekankan bahwa kemampuan bela diri harus digunakan untuk melindungi, bukan menjadi alasan untuk melakukan kekerasan. Ia mengingatkan agar keberanian tidak berubah menjadi kesombongan dan keteguhan prinsip tetap disertai sikap rendah hati.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Nabil turut menjelaskan makna semboyan “Bela Kiai, Sampai Mati”. Ia menyebut semboyan itu sebagai bentuk kesetiaan dalam menjaga guru, ilmu, pesantren, Nahdlatul Ulama, sekaligus menjaga Indonesia dan nilai kebangsaan yang diwariskan para ulama, bukan sebagai seruan untuk bermusuhan dengan pihak lain.
Sebelum prosesi pembaiatan dimulai, para santri juga diminta membawa tiga nilai ketika kembali ke daerah masing-masing, yakni adab, keberanian, dan tanggung jawab. Gus Nabil mengingatkan agar setinggi apa pun kedudukan yang kelak diraih, santri tetap menempatkan guru dan kiai pada posisi yang harus dihormati.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo sekaligus Dewan Khos PP Pagar Nusa KH Badrul Huda Zainal Abidin (Gus Bidin), Dewan Pembina PP Pagar Nusa KH Muhtadi, Majelis Pendekar PP Pagar Nusa KH Abdul Lathif, Komandan Kopasnas Pagar Nusa Malik, sesepuh Pagar Nusa Lamongan sekaligus Majelis Pendekar PW Pagar Nusa Jawa Timur Abah Machfud, Ketua PW Pagar Nusa Jawa Timur KH Sholahuddin Fahurrohman, Ketua PC Pagar Nusa Babat Fadhori, serta Ketua PC Pagar Nusa Lamongan M. Nawir Ghozali.
Menutup arahannya, Gus Nabil menekankan bahwa perkembangan organisasi tidak cukup dilihat dari jumlah anggota. Ia menilai ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana Pagar Nusa mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pagar Nusa tidak ingin sekadar menjadi besar. Yang lebih penting adalah seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada masyarakat,” pungkasnya.




