Pintar Menghina Tapi Bodoh Berkaca, Terkadang Manusia Terlalu Kuno Dalam Bermain Logika.

Gambar Gravatar
          
          
chatgptgemini

Liputan Surabaya – Surabaya, Di tengah derasnya arus komunikasi digital, ruang publik kian dipenuhi paradoks. Banyak orang tampak piawai merangkai kalimat untuk menyerang, namun gagap saat diminta bercermin. Fenomena ini mengemuka sebagai ironi sosial: kecerdasan digunakan untuk menjatuhkan, bukan memahami.

Dalam sejumlah perbincangan, baik di media sosial maupun forum terbuka, pola komunikasi cenderung bergeser dari adu gagasan menjadi adu serangan personal. Argumen yang semestinya dibangun di atas data dan nalar sehat, kerap digantikan oleh opini emosional dan logika yang dipaksakan.

Seorang pengamat sosial menilai, kecenderungan ini menunjukkan masih kuatnya cara berpikir lama yang belum beranjak dari pola defensif. “Logika tidak lagi dipakai untuk mencari kebenaran, melainkan sekadar alat pembenaran,” ujarnya.

SIMAK JUGA  Dairyland Farm Theme Park Prigen: Destinasi Wisata Edukasi dan Rekreasi Keluarga Berbasis Susu yang Diminati Anak-Anak dan Pelajar

Gejala tersebut memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat masih terjebak dalam pendekatan berpikir yang dangkal. Kritik tidak lagi diarahkan untuk membangun, melainkan untuk meruntuhkan. Dalam situasi ini, kemampuan refleksi diri justru menjadi barang langka.

Bacaan Lainnya
SIMAK JUGA  Guru Agama di Surabaya Diamankan Polda Jatim Terkait Dugaan Kasus Pencabulan Anak
LIPUTAN SURABAYA

Padahal, dalam tradisi intelektual, kemampuan berkaca merupakan fondasi utama dalam membangun nalar yang sehat. Tanpa itu, kritik hanya akan berubah menjadi serangan, dan perbedaan pandangan menjelma konflik berkepanjangan.

Lebih jauh, kondisi ini berimplikasi pada menurunnya kualitas diskursus publik. Ruang dialog yang seharusnya produktif, berubah menjadi arena saling menjatuhkan. Akibatnya, substansi kerap tenggelam oleh ego dan kepentingan sesaat.

Ironisnya, tidak sedikit pihak yang membungkus pola komunikasi tersebut dengan klaim intelektualitas. Padahal, kecerdasan sejati justru tercermin dari kemampuan mengelola perbedaan, bukan memperuncingnya.

SIMAK JUGA  Ketua DPC KWI Bangkalan Desak Transparansi Polres Sampang, Soroti Hak Pers dan Keterbukaan Informasi Publik

Fenomena ini menjadi cermin bahwa kemajuan teknologi belum sepenuhnya diiringi kedewasaan berpikir. Tanpa kesadaran untuk berbenah, manusia berisiko terus terjebak dalam logika usang—yang lebih sibuk menyalahkan daripada memahami.

Di tengah dinamika ini, publik dituntut untuk kembali pada esensi berpikir rasional: mengedepankan nalar, menjaga etika, serta berani mengoreksi diri. Tanpa itu, kecerdasan hanya akan menjadi alat—yang tajam ke luar, namun tumpul ke dalam.

Pewarta : Mus/Tp

HYT AKSESORIS

BAKSO PAK SAN DEPAN TUGU PAHLAWAN 💯